Merger PTS Gagal
Malang Raya Batal Jadi Percontohan Nasional
Program biro perencanaan luar negeri Depdiknas menjadikan Malang sebagai pilot project merger perguruan tinggi swasta (PTS) gagal. Padahal, tahun lalu daerah ini digadang-gadang menjadi percontohan nasional dalam hal merger PTS. Bahkan, Depdiknas telah memasang target hanya akan ada 15 atau 20 PTS di Malang Raya. Berdasarkan data, saat itu total PTS Malang Raya lebih dari 50 lembaga.
Hal itu kemarin diungkapkan salah satu anggota tim merger PTS Malang Raya Drs Soeparto MPd. Menurutnya, banyak sekali kendala yang membuat proyek tersebut gagal diwujudkan. “Nyaris gagal. Karena 95 persen tidak mungkin dilaksanakan,” kata dia.
Direktur bidang kerjasama luar negeri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu mengatakan, kendala terbesar adalah perbedaan visi dan misi. Selain itu, PTS besar menolak keras jika disatukan dengan PTS lain. Praktis, saat itu, harapan hanya pada PTS kecil yang kondisinya di ambang kolaps. Atau, PTS-PTS satu lokasi dengan jumlah mahasiwa sedikit.
Namun dalam perjalanannya, tetap saja ada kendala. “Seperti yang diprediksi banyak orang. Merger lembaga sangat sulit,” tambahnya.
Meski gagal menyatukan lembaga PTS, terutama PTS yang dinilai mati suri, tim merger yang beranggotakan UMM, Universitas Cipta Wacana, STIMIK Pradnya Paramita, dan Universitas Widyakarya, itu tak berhenti begitu. Parto, sapaan akrab Soeparto, bersama tim lain akhirnya mencari terobosan baru. Yakni, dengan menyatukan manajemen perkuliahan. Artinya, PTS yang dinilai mampu menjadi sentra perkuliahan mata kuliah tertentu mengimbaskan pada PTS lain. “Kami memanfaatkan information technology (IT). Depdiknas bersedia memfasilitasi,” ujar Parto.
Sebagai penampung adalah PTS yang memiliki fasilitas kuliah jarak jauh via IT. Keputusan itu hasil pertemuan yang dilakukan selama ini. Dengan kata lain, sebenarnya telah terdeteksi tingkatan PTS. Mulai PTS besar, menengah, dan kecil. Hanya saja, Parto tidak bisa membeberkan nama masing-masing. Karena, hal itu menyangkut nama baik lembaga lain.
“Karena PTS-PTS sasaran merger enggan berganti baju baru, akhirnya manajemen perkuliahan inilah yang kami garap,” tandas dia.
Sementara, dihubungi terpisah Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Malang Raya Prof Abraham Lomi mengatakan, memang cukup sulit merealisasikan merger PTS. Alasannya, tak jauh beda seperti yang diutarakan Soeparto. Antara PTS satu dengan PTS lain memiliki visi dan misi berbeda.
Paling memungkinkan adalah menggalang kerjasama antar-PTS. Program seperti ini yang kini tengah digerakkan APTISI.
“Kami saling memotivasi untuk menghasilkan lulusan berkualitas. Daya saing lulusan yang menjadi target kami. Ini yang membutuhkan proses dan kesadaran. PTS kecil harus bangkit, PTS besar membantu mencapai tujuan bersama. Meningkatkan kualitas,” ungkap rektor ITN (Institut Teknologi Nasional) ini. (nen/hap/war, sumber : jawapos)

Komentar Anda