Sesembahan Berwarna Kuning
Perayaan kuningan di Pura Luhur Dwijawarsa, Buring kemarin berlangsung khidmat. Sedikitnya 300 umat Hindu Malang Raya, mengikuti sembahyang, di pura yang dibangun sejak tahun 1957 tersebut. Sembahyang untuk perayaan kuningan ini berbeda dengan sembahyang rutin. Masalahnya, selain berdoa para umat yang hadir juga harus membawa sesembahan.
Sesembahan itu diletakkan di depan pemangku, sebelum gelar sembahyangan di mulai. Sesembahan ini merupakan simbol kemakmuran umat. “Karena ini perayaan kuningan, yang berasal dari kata kuning, maka sesembahan yang diberikan pun harus ada unsur warna kuningnya. Contohnya nasi kuning, itu selalu ada,’’ kata Ketua Yayasan Pura Dwijawarsa Malang, Ida Bagus Gandem kepada Malang Post kemarin.
Disebutkan oleh Gandem, jika perayaan kuningan ini sebetulnya dilaksanakan 210 hari sekali, atau jika dihitung dengan kalender jawa tujuh bulan sekali. Perayaan kuningan juga merupakan rangkaian dari perayaan galungan, yang juga dilaksanakan 210 hari sekali. Pada hakikatnya, perayaan kuningan dan galungan memiliki prinsip yang sama, yaitu mengajarkan kebenaran dan keseimbangan.
“Ajaran yang diusung dalam upacara ini adalah ajaran Dharma dari Adharma, yaitu kebenaran dari kebatilan. Dan di sini, kebenaranlah yang menang,’’ tambah Gandem.
Sementara itu, suasana upacara kemarin betul-betul sangat khidmat. Para umat yang datang berbondong-bondong, dengan memakai pakaian adat, ini langsung masuk ke pura. Tapi sebelumnya, mereka mensucikan diri lebih dahulu. Setelah semuanya umat berkumpul, sembayang pun dilaksanakan. Dan kemarin, sembahyan itu dipimpin oleh Pemangku Ida Bagus Made Puspa.
Semua kalimat suci pun terdengar dari bibir pemangku. Doa yang diucapkan mencakup semuanya. Mulai mendoakan diri sendiri, hingga semua orang, termasuk para korban bencana. “Doa yang dipanjatkan universal, atau semuanya ada di situ, sehingga bukan untuk diri sendiri saja, tapi juga untuk semuanya,’’ kata Gandem.
Sembahyang selesai pukul 10.00 WIB. Para umat yang tadinya khusyuk dan khidmat menjalankan ibadah, langsung bersalam-salaman satu sama yang lainnya. Ritual bersalaman itu merupakan simbol, para umat saling memaafkan, dan berusaha menjadi lebih baik. (ira/lim) (ira ravika)

Komentar Anda