Ramadhan, Bulan Berjilbab

Ketika Mahasiswi UMM Wajib Berjilbab Selama Ramadan
Ramadan, berarti bulan wajib jilbab di Universiter Muhammadiyah Malang (UMM). Lantas, bagaimana kalau ada mahasiswi yang tidak mau memakai jilbab? Setiap kali Ramadan tiba, ada yang berbeda di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Sebagai salah satu perguruan tinggi di lingkungan Muhammadiyah, UMM memberlakukan kewajiban memakai jilbab bagi mahasiswi muslimnya. Mulai hari ini, peraturan ini harus diikuti semua civitas tanpa terkecuali. Jika tidak, ada sanksi yang sudah disiapkan.

Sebab, meski identik dengan kampus Islami, namun tidak semua mahasiswinya memakai jilbab. Karena itulah, dengan maksud sebagai pembelajaran untuk mahasiswi, setiap Ramadan tiba, selalu diberlakukan kewajiban memakai jilbab bagi semua mahasiswi. Kecuali mahasiswa non muslim, yang jumlahnya mencapai 200 orang lebih di UMM ini.

‘’Saya menyambut baik peraturan kewajiban berjilbab ini, walaupun saya melihat tidak sedikit teman-teman yang setengah-setengah saja melaksanakannya,’’ ungkap mahasiswi Tarbiyah, Mualimah.

Ia menuturkan, ada beberapa mahasiswa yang awalnya tidak berjilbab, mencoba untuk melepas kewajiban itu saat tidak ada pengawasan.

Misalnya di area yang tidak terlihat dosen, maupun satpam. Mereka dengan leluasa melepas jilbab yang dipakai. Hanya saja dari segi positifnya, banyak mahasiswa yang sebelumnya berpakaian sedikit terbuka ke kampus, merubah penampilan lebih tertutup saat bulan Ramadan.

‘’Yang paling seru adalah cerita dari teman-teman yang biasanya tidak memakai jilbab. Mereka harus membeli jilbab, atau meminjam dari temannya. Belum lagi kalau saat memakai jilbab, mereka sedikit kesulitan,’’ ungkap salah satu mahasiswa bahasa dan sastra, Fera.

Heni, mahasiswa Komunikasi mengaku sudah mem-planning untuk membeli jilbab untuk kuliah hari ini. Malam kemarin, ia secara khusus membeli jilbab.

Heni memilih jilbab yang praktis, sehingga tidak kesulitan memakainya. Untungnya, kata dia, saat ini ada berbagai model jilbab yang praktis. Sehingga siapapun bisa menggunakannya tanpa harus ribet dengan modelnya.

Bagian Kemahasiswaan UMM, Agus Santoso menuturkan, mengubah kebiasaan berpakaian mahasiswa melalui kewajiban berjilbab ini memang tidak mudah.

Tidak sedikit diantara mereka yang masih mengenakan celana jeans ketat dan kaos seadanya meskipun di kepalanya sudah dililit jilbab. Namun jumlahnya tidak banyak, lebih banyak yang mencoba patuh dengan peraturan yang berlaku setiap tahun itu.

Sementara itu Kepala Humas UMM, Nasrullah MSi menuturkan, sebagai peraturan wajib, maka ada sanksi yang disiapkan jika ada pelanggaran. Yang pertama sifatnya teguran, hingga sanksi sita kartu tanda mahasiswa (KTM). Untuk itu pengawasan dilakukan oleh seluruh karyawan dan dosen di area kampus.

‘’Kalau di kelas, ada dosen yang tahu harus menegur dan di luar kelas bahkan satpam pun punya hak untuk menegur. Jika tidak mengindahkan akan ada sanksi lain yang harus diterima,’’ tegasnya.

Menurut Nasrul, pembiasaan berjilbab ini berdampak pada kepribadian mahasiswa. Dari penelitian yang sudah dilakukan tim UMM, diketahui ada sekitar 30-50 persen mahasiswa yang awalnya tidak berjilbab memutuskan untuk memakainnya usai Ramadan. Artinya target yang diinginkan kampus pun bisa tercapai. (lailatul rosida/rosida/malangpost)

This entry was posted on Tuesday, 2nd September 2008 and is filed under Headline News. Anda dapat memantau komentar pada berita ini melalui RSS 2.0 feed. Anda bisa mengirim komentar, atau lacak balik dari website anda.

Komentar Anda